Keling Kumang Group (KKG) dan Solidaridad kembali melaksanakan lokakarya. Lokakarya kali ini diadakan selama dua hari berturut-turut di Desa Sepulut dan Desa Tapang Semadak. Lokakarya tentang perencanaan tata ruang untuk pencegahan perambahan hutan pada hari pertama diadakan di Desa Sepulut dihadiri oleh 30 peserta, sedangkan pada hari kedua kegiatan diadakan di Desa Tapang Semadak dihadiri 24 peserta. Para peserta di dua desa ini nampak antusias dalam mengikuti acara yang difasilitator oleh Plt. Managing Director Keling Kumang Group, Hilarius Gimawan dan DEM BDD Kenedi Tian. Pada saat memberikan materi lokarya beliau menjelaskan kepada peserta tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan kebersihan lingkungan. Hutan merupakan sumber penghasil oksigen (O2) “paru-paru dunia”, hutan juga sebagai tempat tinggal habitat flora dan fauna. Selain itu, fungsi klimaktologis hutan yaitu mengatur iklim: dan sejuta fungsi lain bagi kehidupan manusia. Beliau juga menampil gambar tentang kondisi hutan saat ini di pulau Kalimantan dan dugaan keadaan hutan dimasa yang akan datang. Keadaan hutan di Pulau Kalimantan dari tahun ke tahun nampak berkurang dengan pesat. Hal ini tentu berpengaruh kepada kondisi iklim yang kita rasakan sekarang seperti suhu panas dan musim hujan atau kemarau yang tidak menentu lagi.

Berkurangnya hutan di Pulau Kalimantan saat ini adalah akibat dari ulah manusia seperti pembukaan lahan perkebunan sawit dan pembukaan ladang berpindah dan lain- lain. Pembukaan perkebunan tentu tidak dapat dilarang karena menjadi sumber perekonomian masyarakat, apalagi ladang berpindah merupakan suatu kearifan lokal masyarakat pada umumnya di Kalimantan. Oleh karena itu, menurut seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Tapang Semadak “pemerintah masih memberikan izin kepada masyarakat untuk membuka ladang, tetapi tidak boleh lebih dari 2 hektar dan pada masa pembakaran lahan tidak serentak melainkan bergiliran”. Pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk beralih ke sistem pertanian bersawah dengan memberikan bantuan untuk mencetak sawah.

Dalam lokakarya masyarakat diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana menjaga kelestarian hutan, namun masyarakat tetap sejahtera. Salah satu cara agar hutan tetap terjaga dan masyarakat sejahtera yaitu dengan membuka ekowisata. Pembuatan ekowisata di kedua desa ini sangat cocok, apalagi di kedua desa ini terdapat potensi wisata alam. Kita tahu bahwa para wisatawan atau turis masa kini memang tertarik pada wisata alam, apalagi wisatawan dari negara- negara maju. Salah satu tujuan wisata alam dunia adalah Pulau Kalimantan. Namun, selama ini wisatawan cendrung lebih banyak memilih berwisata ke negeri tetangga yaitu Sabah dan Sarawak, Malaysia. Harus diakui memang di sana memiliki tempat wisata ternama seperti Gunung Kinabalu di Sabah dan Gua Niah di utara Sarawak. Tetapi sebenarnya di Kalimantan Barat juga memiliki tempat wisata yang tidak kalah menarik apabila dikelola dengan baik. Kalimantan Barat memiliki tempat wisata alam yang banyak sebab wilayahnya sangat luas. Wisata alam di Kalimantan Barat yang sangat menarik perhatian wisatawan dunia seperti Sungai Kapuas, Danau Sentarum dan masih banyak lagi. Selain itu, yang menjadi daya tarik wisatawan dunia di Kalimantan Barat adalah keberagaman suku, bahasa dan budaya daerah yang hampir tidak didapati di tempat lain.

Ketertarikan wisatawan ini menjadi berpeluang besar bagi masyarakat di Kalimantan Barat untuk mengelola tempat wisata alam. Tentu wisatawan akan datang apabila akses trasportasi mudah, dan didapati tempat penginapan yang aman, nyaman serta bersih. Potensi ini didapati di Desa Sepulut dan Desa Tapang Semadak. Kedua-dua desa ini merupakan sebuah desa yang dilintasi sebatang jalan penghubung antar kabupaten dan dekat dengan bandara Tebelian, Sintang. Kedua desa ini juga didapati hutan rimba yang memiliki beragam pokok kayu dan binatang liar. Hal ini menarik apabila dikelola sebagai tempat ekowisata. Diharapkan dengan adanya ekowisata ini dapat menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun internasional untuk datang, dan manjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat setempat. (HM)