Sebagai bentuk upaya medorong masyarakat menjaga dan melestarikan hutan agar tidak dirusak, Keling Kumang Group (KKG), memfasilitasi masyarakat Desa Bengkuang, Kecamatan Kelam Permai, menjadikan kawasan hutan Bukit Belar sebagai kawasan hutan konservasi. Hilarius Gimawan, Pelaksana Tugas (Plt) Managing Director (MD) KKG menjelaskan, berdasarkan pengalaman KKG melakukan pendampingan di masyarakat, Kawasan hutan konservasi yang diusulkan masyarakat, nantinya akan dilihat potensi didaerah tersebut. Potensi apa yang dapat dikekola oleh masyarakat setempat. KKG akan membantu mencarikan sponsor untuk membantu menyediakan apa yang diperlukan masyarakat.

Hilarius Gimawan mencontohkan, di daerah Tapang Semadak, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, KKG bekerjasama dengan Solidaridad memberikan bantuan bibit JAPP (Jengkol, Aren, Petai, dan Pinang). Semua bibit ini diberikan secara gratis kepada masyarakat untuk ditanam di kawasan hutan tersebut.

“Dipilihanya keempat jenis tanaman ini, karena keempatnya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat dengan syarat panennya tidak boleh di tebang.” Jelas Hilarius Gimawan saat menyampaikan materi workshop tentang hutan konservasi dihadapan peserta di Balai Desa, Desa Bengkuang, 5 November 2018 yang dihadari sebanyak 20 orang peserta, mulai dari kepada Desa, Ketua BPD, semua perangkat desa, Kadus, Temenggung, ketua Adat, tokoh masyarakat dan agama desa Bengkuang.

Selain keempat tanaman tersebut, lanjutnya, bisa juga ditanami tanaman lain seperti jenis kayu meranti, kayu tebelian, kakao, kopi dan macam macam tanaman lainnya apabila kondisi tanah memungkinkan.Dimanto, kepala Desa Bengkuang, menyambut baik dan berterima kasih kepada KKG telah bersedia mendampingi masyarakat Desa Bengkuang dalam proses menjadikan Kawasan hutan Bukit Belar menjadi Kawasan hutan konservasi.

Menurut Dimanto, kepedulian KKG ini tidak ada alasan bagi masyarakat menolak. Terlebih lanjutnya, kawasan Bukit Belar ini jika tidak cepat diurus, luas hutannya akan semakin berkurang. Bahkan saat ini sudah dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Ketika musim kemarau, masyarakat merasakan sendiri dampaknya. Aliran air bersih tidak mengalir karena serapan air di Kawasan bukit Belar sudah semakin berkurang.

“ini baru sebagian kecil dampaknya kita rasakan. Kita dapat banyangkan jika 10 sampai 20 tahun yang akan datang, bisa jadi semua hutan dan hewan langka habis karena tidak ada yang peduli dengan hal ini.” Ujar Dimanto disela membuka kegiatan workshop hutan konservasi Bukit Belar, Desa Bengkuang,

Kekuatiran Dimanto, dikatakannya sangat berdasar, pasalnya baru beberapa waktu lalu setiap pagi terdengar suara kelempiau, namun sejak dua bulan terakhir suara tersebut sudah tidak ada lagi. Dimanto, menduga, Kelempiau tersebut sudah ditangkap oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Demikian juga disampaikan, R.S. Yusuf Seluta, Temenggung Desa Bengkuang, apa yang telah dilakukan oleh KKG ini harus didukung. Bahkan lanjut dia, ketika kawasan hutan bukit Belar nanti sudah menjadi kawasan hutan konservasi, kasawan hutannya akan memiliki nilai ekonomi seperti yang telah dilakukan KKG kepada beberapa daerah.

“kita sangat setuju dengan langkah KKG ini. Sekali lagi kami atas nama Temenggung terima kasih atas kesediaan KKG memfasilitasi kami dalam menjadikan kawasan Bukit Belar menjadi kawasan hutan konservasi.” ujarnya

Bahkan, dulu lanjut, R.S. Yusuf Seluta, sudah pernah sebuah NGO mengajak masyakarat menjaga kawasan tersebut. tetapi sampai dengan saat ini tidak ada lanjutan dari NGO tersebut. “semoga KKG tidak seperti yang sudah berlalu. Saya yakin dengan pengalaman KKG yang sudah banyak mendampingi masyarakat, kawasan hutan Bukit Belar bisa terwujud menjadi Kawasan hutan konservasi.” yakinnya (EDH)