Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikenal dengan banyaknya sumber daya alam yang melimpah ruah. Selain itu, Indonesia juga memiliki tanah yang subur sebagai lahan pertanian. Bahkan saking suburnya tanah di Indonesia dalam lagu Koes Plus mengandaikan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Namun, sumber daya alam yang ada di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat ini tidak akan ada gunanya apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, dalam rangka mengelola sumber daya alam ini Keling Kumang Group (KKG) dan Solidaridad baru-baru ini melaksanakan kegiatan di Desa Sepulut. Kegiatan yang dihadiri oleh 32 orang petani di Desa Sepulut ini diawali dengan sosialisasi tentang sistem pertanian rendah karbon oleh pihak KKG dan Solidaridad.

Kita tahu bahwa penggunaan pupuk kimia selama ini menjadi pilihan utama sebagian besar petani. Penggunaan pupuk kimia diakui memang dalam jangka pendek memiliki dampak positif karena mempercepat pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang secara berlebihan akan berdampak negatif pada lahan pertanian dan lingkungan. Lahan pertanian yang terlalu banyak menggunakan pupuk kimia akan terlihat kering dan tidak subur, karena organisme penyubur tanah seperti cacing dan lain-lain akan mati atau berkurang populasinya. Hal ini menyebabkan tanaman di lahan yang sering menggunakan pupuk kimia akan ketergantungan kepada pupuk kimia secara terus menerus. Oleh karena itu, dalam memberikan materi Hera selaku DEM IPMD dari KKG mengajak petani di Sepulut untuk menerapkan sistem pertanian rendah karbon dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik sangat baik karena dapat menyuburkan tanah dan tidak merusak lingkungan. Selain itu, ia juga mengajak mesyarakat di Sepulut untuk menjaga kebersihan lingkungan dan aliran sungai.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi para petani diajak untuk bekerja. Walaupun cuaca kurang bersahabat karena hujan, namun tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap melaksanakan kerja yaitu membersihkan jalur sungai Sebeloh. Sungai Sebeloh merupakan sungai kecil cabang sungai Sepulut yang menjadi jalur atau pintu air keluar dari lahan pertanian warga. Menurut sastera lisan masyarakat Desa di Sepulut, sungai ini sebenarnya merupakan parit yang dahulunya di buat oleh seseorang bernama Beloh sehingga namanya disebut sungai Sebeloh. Menurut beberapa peserta kegiatan sungai ini terakhir kali dibersihkan kurang lebih 6 tahun lalu sehingga jalur sungai hampir tetutup oleh semak dan pokok tumbang. Hal ini berdampak terhadap lahan pertanian warga karena pada musim hujan biasanya terjadi genangan air di sawah mereka. Pembersihan jalur sungai ini diharapkan dapat melancarkan jalur air dari hulu sungai sehingga tidak terjadi genangan air yang lama.

Kegiatan yang diadakan oleh KKG dan Solidaridad ini turut mendukung program pemerintah Indonesia tentang larangan pembukaan lahan dengan cara membakar yang termuat dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Petani di Desa Sepulut diajak untuk membuka lahan pertanian padi dengan cara bersawah bukan ladang berpindah-pindah. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat gotong royong dalam menjaga kebersihan aliran sungai dan mendapat pengetahuan baru tentang sistem pertanian padi rendah karbon. Kegiatan sederhana yang bersifat lokal ini diharapkan dapat berdampak hingga ke tingkat nasional atau juga bisa dapat menjadi contoh bagi petani lain di seluruh Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. (HM)