Pada 21 Januari 2019, saya menghadiri Pra RAT di Sungai Kura, Hulu Tempunak. Sudah lama saya tidak kesana, terakhir saya ke sana pada 2009. Jadi, banyak perubahan yang terjadi. Itulah kemajuan. Di depan kantor TP, dulunya ada gereja, sekarang bekas gereja menjadi gedung serbaguna. Gereja baru yang megah dibangun di sampingnya. Dulu belum ada rumah di depan gereja, sekarang beberapa rumah penduduk sudah berjejer di sisi kiri dan kanan jalan kampung di sekitar gereja. Rumah-rumah itu permanen dan bagus.

Sedangkan pada kantor TP ada sedikit perubahan. Sudah ada mes staf di belakang kantor. Mes staf hampir- hampir tak punya halaman, karena tanah di depannya bukanlah tanah CU, tapi tanah desa. Jadilah. Di Kantor TP ini, yang dulunya menjadi ruang pertemuan sudah diubah menjadi ruang pelayanan. Mereka membutuhkan sinar matahari pagi kata para staf. Di ruangan itu lah sinar matahari banyak masuk. Tapi ada juga alasan lain. Hanya para staf di sana yang tahu.

Seorang staf, Monalisa, ketika libur sabtu minggu, balik kampung. Sayangnya ketika pulang, di jalan negara dihantam mobil serdadu yang masuk birem dan kemudian menyeberang jalan. Monalisa dan kawannya sedang bernasib sial. Dia meninggal di semak-semak. Kisah duka itu masih dirasakan di TP Sungai Kura ini.

Yang tidak banyak perubahan adalah jalan menuju Sungai Kura. Lumpur dan kubangan benar-benar membuat perasaan frustrasi. Di dunia yang terbuka dan penuh dengan informasi seperti ini, rasanya pembangunan tidak menyentuh daerah pedalaman. Nawacitanya pak Presiden Jokowi membangun dari pinggiran, tak menyentuh Sungai Kura. Infrastrukturjalan raya yang digenjot pak Presiden tidak sampai ke sini. Entah kapan jalan dari Simpang Pandan sampai Sungai Kura akan benar-benar mulus? Saya tidak tahu. Ini adalah jalan kabupaten. Jadi, program infrastrukturnya pak Presiden Jokowi pastilah tak sampai ke sini.

Keprihatinan seperti inilah, mungkin, yang menyebabkan seorang putra kampung dari Ansok, Antong, rela keluar dari CUKK dan nyaleg. Sayangnya banyak putra kampung lain yang mungkin punya keprihatinan yang sama dan nyaleg juga. Persaingan menjadi-jadi. Orang-orang di kampung sana rada bingung, siapa yang punya peluang menang. Semua harus ditimbang-timbang agar mereka nanti setelah Pileg benar-benar ada wakil dari sana. Harapannya, mereka dapat memperjuangkan perbaikan jalan kabupaten ini. Kata teman saya, “Kebanggaan kita kepada negara ini sangat dirasakan ketika infrastruktur jalan mulus.” Menurut saya itu benar. Saya menyaksikan jalan- jalan yang bagus di Prancis, Italia, Amerika Serikat, Canada, Jepang, Malaysia, Sri Langka, dll. Dunia yang selama saya hidup pernah saya singgahi.

Setelah beberapa sambutan, giliran saya diminta naik ke panggung dan memberikan kata sambutan. Saya ragu apakah peserta masih betah mendengar kata sambutan yang banyak itu. Tidak tahulah. Acara-acara seperti ini tak mungkin menghindari jejalan kata sambutan. Apa yang saya sampaikan?

Kata saya “setiap hari Tuhan memberi kita hadiah, benar apa tidak?” Tidak ada jawaban. Mungkin mereka bingung mana mungkin Tuhan beri kita hadiah. Mana buktinya? Tidak pernah merasa pernah menerima hadiah. “Apakah bapak, ibu, dan saudara saudari semua percaya Tuhan pernah beri kita hadiah, setiap hari?” Tak ada jawaban. Pasti bingung.

Tak apa anda semua bingung dengan pertanyaan saya yang aneh ini. “Akan saya jawab,” kata saya. Setiap hari Tuhan memberi kita hadiah, yaitu WAKTU. Saya menyapu pandangan ke semua peserta. Kemajuan kita dalam hidup terjadi hanya kalau kita mengisi WAKTU itu setiap hari dengan sebaik-baiknya. WAKTU tak mungkin kembali. Kemarin semakin hari akan semakin jauh. Tak ada kompromi. WAKTU yang dihadiahi Tuhan kepada kita adalah 24 jam. Sekitar delapan jam untuk tidur. Sisanya tergantung anda mengisinya. Jika anda mengisinya dengan pikiran dan tindakan yang bagus, maka majulah kehidupan anda. Jika tidak maka sia-sialah WAKTU yang diberikan Tuhan setiap hari. Jadi, isilah WAKTU anda dengan hal-hal baik, anda pasti akan terbang tinggi di dalam kehidupan anda. Percaya anda sekarang kepada saya kalau WAKTU adalah hadiah yang diberikan Tuhan setiap hari kepada kita? Kalau Tuhan tidak memberikan hadiah WAKTU kepada kita, berarti jam kehidupan kita berhenti. Dan itu berarti kita MATI. Pesan dari motivator terkenal Brian Tracy “Kuasai Waktu anda, maka anda akan menguasai kehidupan anda.”