kakao (Cocoa) adalah nama dari tumbuhan yang memiliki  banyak  manfaat.  Kakao menghasilkan produk berupa cokelat. Selain digunakan sebagai cemilan cokelat ternyata dapat digunakan sebagai bahan campuran kosmetik, dan obat penyembuh kanker. Menyadari akan banyaknya manfaat dari tumbuhan Kakao, maka pada 14 November 2018, Keling Kumang Group (KKG) mengadakan Worksop Budidaya Kakao.

Workshop ini difasilitasi langsung oleh ratu cokelat dari Philipina Raquel T. Choa, Hannah Choa, serta praktisi cokelat Philipina Eduardo Patino. KKG mengundang para petani, baik yang sudah bertani kakao, maupun yang belum. Peserta yang menghadiri workshop kakao adalah sebanyak 59 orang, turut hadir pula pada kesempatan tersebut ketua KKG dan CUKK Mikael, Plt MD KKG Hilarius Gimawan, CEO CUKK Valentinus serta pengurus dan pengawas CUKK. Workshop ini diadakan dengan maksud supaya petani bisa memperoleh ilmu mengenai budidaya kakao secara baik. Kemudian para petani bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh untuk dipraktekkan.

Dalam sambutannya Mikael menyampaikan rasa prihatinnya terhadap para petani karena masyarakat dan anggota yang berpotensi sebagai petani karet, sawit, dan lada mengalami kemerosotan nilai jual yang rendah Mikael berharap anggota CU Keling Kumang dapat menambah penghasilan dengan alternatif lain baru yaitu dengan berkebun Kakao.

Workshop yang diadakan selama satu hari di aula Kantor Sentral CU Keling Kumang ini, tidak hanya memaparkan budidaya mulai dari penanaman sampai panen, tetapi juga memberikan ilmu bagaimana cara membuat produk dari bahan cokelat dengan cara sederhana. Sehingga para petani kelak memiliki banyak pilihan untuk memasarkan hasil Kakao. Para petani bisa menjual bibit dalam bentuk tunas, dan batang. Selain menjual bibit, juga bisa menjual biji kakao yang sudah kering, dan menjual bubuk atau olahan lainnya dalam bentuk produk.

Budidaya Kakao tidak hanya mudah untuk dilakukan, namun proses menuju panen terbilang cepat. Jika petani menanam Kakao dengan cara disambung, maka hanya perlu satu setengah tahun saja sampai panen. Namun jika menggunakan tunas maka diperlukan waktu 4 sampai 5 tahun. Kakao memerlukan tanaman pelindung, sehingga bisa tumpang sari dengan tumbuhan lainnya. Jarak antara Kakao dengan pohon pelindung sebaiknya berjarak 3 meter.

Tanaman pelindung Kakao sebaiknya adalah tanaman yang memberikan nutrisi pada Kakao itu sendiri. Indonesia, khususnya Kalimantan Barat kita menyebutnya sebagai Gamal. Gamal itu sendiri mendapat julukan sebagai mother the Cocoa di Philipina. Disebut ibu Kakao karena memberi nutrisi pada Kakao, layaknya seorang ibu menyusui anaknya. Namun Gamal tidak menghasilkan produk seperti Kakao, oleh karena itu, jika petani ingin tanaman pelindung Kakao yang bisa menghasilkan produk sampingan, sebaiknya tanamlah pisang.

Diakhir kegiatan Workshop Cacao Hilarius Gimawan selaku Plt MD KKG menyampaikan bahwa akan megevaluasi kegiatan yang telah diselenggarakan tersebut dan mengadakan rapat internal KKG untuk membuat rencana dan tindak lanjut kedepannya.

Gimawan berharap setelah ini, para petani bisa membudidayakan Kakao, untuk menciptakan produk sendiri dari bahan Kakao. Dengan demikian petani memperoleh sumber pendapatan, selain Karet, Sawit, Lada dan lainnya. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarga. (MN&DK)