Credit Union Keling Kumang (CUKK) dan Kelompok Self Help Group (SHG) padi sumber Rejeki Melakukan tanam padi perdana belum lama ini. Tanam padi perdana ini dilakukan di empat hamparan tanah yang memiliki luas 61,7 hektar di Desa Kenyabur, Kecamatan Tempunak Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

SHG adalah suatu usaha menolong diri sendiri melalui kelompok yang ada di CU Keling Kumang. Dimana SHG merupakan program pendamping  anggota untuk usaha berbasis kelompok produktif yang ada di CUKK. Program pengembangan dari Financial Capability (FC) untuk membantu anggota dapat mengembangkan ilmu yang di dapat saat FC.

Tanam padi perdana ini dihadiri oleh Managing Director Keling Kumang Group (KKG), Yohanes Rumpak, S. Pd., M.M dan perwakilan dari sejumlah instansi. “kita semua berjuang untuk menyediakan beras, dalam lingkup keluarga dulu, apabila ketahanan pangan dalam lingkup keluarga telah tercukupi, kemudian dilanjutkan ke ruang lingkup yang lebih besar, seperti ruang lingkup desa, kemudian kabupaten dan provinsi. Apabila semua provinsi memiliki ketahanan panganya. Jadi semua bermula dari lingkup keluarga”. Kata Yohanes Rumpak.

Pada awalnya masyarakat kenyabur lebih menyukai metode ladang berpindah, dikarenakan lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan sawah, Petani hanya perlu membakar lahan yang ada, kemudian lansung menanam padi tanpa perlu memupuk lagi. Namun seiring waktu berjalan masyarakat sadar akan bahaya membakar lahan, perlahan dengan bantuan sosialisasi dari pemerintah dan aktivis-aktivis lingkungan, mereka yang sedang bermula menggunakan metode ladang berpindah mulai menggunakan metode bersawah. Dengan metode bersawah ini, mereka dapat menjaga lingkungan di sekitar mereka, tanpa perlu khawatir rusaknya hutan di sekitar mereka, serta dengan adanya sawah ini, hasil panen yang mereka peroleh diharapkan lebih produktif.

Pemilihan jenis bibit padi pun menjadi hal yang tak kalah pentingya waktu tanam, jumlah hasil yang akan diperoleh serta ketahanan bibit padi dari berbagai penyakit menjadi pertimbangan. Masyarakat yang awalnya tidak mengerti dalam pemilihan bibit harus mengetahui kelebihan dan kekurangan suatu jenis bibit. Dengan bantuan SHG yang giat melakukan pendampingan dan sosialisasi, kemudian masyarakat menentukan jenis bibit padi yang akan ditanam. Jenis bibit padi yang mereka tanam adalah bibit padi ciherang. Masyarakat Desa Kenyabur memilih menanam jenis padi ini dikarenakan umur tanam hanya sekitar 120 hari, dalam 1 tahun masyarakat Desa Kenyabur bisa 3 kali menanam padi. Jumlah padi produktifnya 15 batang, hal ini berpengaruh dengan jumlah hasil yang akan di dapat pada masa panen serta lebih tahan hama penyakit yang juga berpengaruh pada sukses atau gagalnya panen tadi. Jenis padi Ciherang ini kualitasnya sangat luas, dan rasa nasinya pulen.

Kelompok SHG Padi sumber rejeki yang beranggotakan 66 orang ini dibimbing dalam merawat padi dan mengelola sawah juga di bantu oleh Petugas Penyuluhan Lapangan (PPL) Desa setempat, serta Juga Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat. Membantu mengawasi pembuatan sawah. Sementara Koperasi Produsen 77 (K77) bekerjasama Nu Farm menyediakan pupuk dan pestisida. Sekaligus bisa mendampingi cara memupuk dan menggunakan pestisida buatan. Mereka juga bertanggung jawab apabila dikemudian hari menemukan masalah. (PRV)