(Plup and Window 2)


Keling Kumang Group (KKG) memiliki perhatian dan kepedulian yang besar tidak hanya pada kesejahteraan hidup anggota dan masyarakat, tetapi juga terhadap keberlangsungan dan pelestarian hutan dan alam sekitar. Hutan disebut sebagai paru-paru dunia. Istilah ini menunjukan betapa hutan itu menjadi urat nadi dan nafas hidup manusia dan segala mahkluk yang ada di dalamnya. Dengan hutan, semua spesies berbagai mahkluk hidup dan tumbuhan dapat hidup tumbuh berkembang. Hutan bagi orang Dayak sendiri merupakan identitasnya.

Sebagai lembaga besar yang telah tumbuh, hidup dan berkembang di tanah Borneo ini, KKG (Keling Kumang Group) memahami betul falsafah “Hutan Sebagai Identitas Orang Dayak.” Oleh karena itu berbagai upaya telah dilakukan oleh KKG untuk ambil bagian dalam konservasi dan melestarikan hutan serta cagar budaya terutama di wilayah kerjanya. Untuk mewujudkan Visi mulia ini (melestarikan cagar budaya dan konservasi hutan) KKG melalui Konsorsium Pemberdayaan Ekonomi Hijau Kalimantan Barat-Kujau Kalbar menjalin kerja sama dengan MCA-I (Millenium Challange Account Indonesia),Yayasan KEHATI, dan MCC (Millenium Challange Corporation). Menurut Koordinator program Konsorsium Pemberdayaan Ekonomi Hijau Kalimantan Barat-Kujau Kalbar Hilarius Gimawan: “kerjasama antar lembaga dan antar negara ini penting dilakukan mengingat urgensi dari upaya konservasi hutan dan pelestarian cagar budaya rumah betang Sungai Utik ini harus mendapat penanganan sesegera mungkin, mengingat begitu banyak tamu maupaun lembaga datang ke tempat ini entah untuk belajar atau sekedar berkunjung; namun dari sisi managemen pengelolaan belum mendapat perhatian serius.” Oleh karena itu KKG melalui Kujau Kalbar ingin membantu masyarakat selain menjaga, merawat hutan adat, mereka juga membantu menata-kelola rumah betang Sungai Utik ini agar memiliki nilai dan harga jual, dengan demikian cagar budaya ini tidak hanya terlestari tetapi dapat memberikan nilai tambah dan income bagi masyarakat. Hal senada diungkapkan oleh Dessi R dari MCA Indonesia bahwa: “selama ini ada begitu banyak tamu dari dalam maupun luar negeri berkunjung ke rumah betang Sungai Utik dan hutan konservasi ini, namun kedatangan tamu-tamu ini tidak memberikan dampak apa-apa bagi masyarakat setempat khususnya dalam bidang ekonomi, karena sistem managemen pengelolaan belum maksimal. Maka kerjasama ini diharapkan mampu mengkonservasi hutan adat dan menjaga kelestarian rumah betang ini, juga memantapkan sistem manajemen pengelolaan yang baik dan standar.”

Pada kesempatan yang sama Managing Direktur KKG Yohanes Rj, memaparkan Ada 4 program yang dikembangkan hasil kerjasama ini yaitu: “Ekowisata, PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), pembibitan dan penanaman aren dan pabrik aren. Kemudian beliau yang pernah menjabat sebagai CEO CU Keling Kumang menambahkan: Keempat program ini sedang dikembangkan, tujuannya  yakni: pertama mengurangi ketergantungan dari fosil (BBM) karena sumber daya alam ini terbatas, kedua Memperbaiki tata kelola kawasan hutan adat Embaloh Hulu secara berpartisipasi dan berkelanjutan bersama masyarakat, Ketiga adanya perubahan prilaku masyarakat dalam mengelola SDA agar lebih produktif dan keempat mengoptimalkan daerah aliran sungai di wilayah ini, yang selama ini dikenal sebagai surganya ikan segar.  Ke-4 program ini penting dilaksanakan di wilayah ini dengan pertimbangan pertama bahwa wilayahnya masih terisolasi, kedua sistem pengelolaan belum tertata rapi dan berkelanjutan  ketiga, minim pengetahuan teknologi ramah lingkungan.

Menurut Yohanes RJ untuk mewujudkan hal tersebut di atas KKG perlu mendapat suport dari lembaga yang memiliki visi dan kepedulian yang sama. Maka pada tanggal 6-7 Februari 2017 KKG mendapat kunjungan dan assesment dari mitranya; Dessy R dan Budhi B dari MCA-I, Ronny C dan Haris Iskandar dari Yayasan KEHATI, Sergio, Chris B dan Martin Hardono dari MCC. Kedatangan para tamu mitra ini ingin melihat langsung cagar budaya Rumah Betang Sungai Utik dan hutan Adat yang akan dikonservasi menjadi ekowisata melalui Konsorsium Pemberdayaan Ekonomi Hijau Kalimantan Barat-Kujau Kalbar.

Kedatangan rombongan mitra disambut meriah oleh warga masyarakat Rumah Betang Sungai Utik. Tabuhan gong dan gemelan serta tari-tarian Dayak Iban yang enerjik ikut memeriahkan suasana penyambutan kedatangan rombongan.

Setelah istirahat dan makan siang bersama, acara dilanjutkan dengan long march keliling hutan adat yang menjadi objek konservasi dan ekowisata. Pada malam harinya kegiatan masih dilanjutkan dengan dialog dan diskusi bersama warga rumah betang (Yason FL)